Artificial Intelligence, Pendidikan, dan Spiritualitas Manusia Membaca Ulang Filosofi Belajar, Beragama, dan Menjadi Manusia di Era AI

Artificial Intelligence, Pendidikan, dan Spiritualitas Manusia Membaca Ulang Filosofi Belajar, Beragama, dan Menjadi Manusia di Era AI

 Author: Luqman Hakim M.Pd, Achmad Alfaridzih M.Pd  Publisher: Penerbit Gubuk Dialektika Bestari  Published: August 28, 2026  Pages: 182  Country: Indonesia  Language: Indonesia  Dimension: 14,8 x 21cm More Details
 Description:

Artificial Intelligence (AI) telah mengubah cara manusia memperoleh informasi, belajar, bekerja, berkomunikasi, dan menghasilkan pengetahuan. Dalam hitungan detik, manusia dapat memperoleh jawaban, menulis, menerjemahkan bahasa, menganalisis persoalan, bahkan berdialog tentang agama dan filsafat. Namun, di balik kemudahan tersebut muncul pertanyaan yang jauh lebih mendasar: ketika mesin semakin mampu berpikir, apa yang membuat manusia tetap manusia?

Buku Artificial Intelligence, Pendidikan, dan Spiritualitas Manusia mengajak pembaca melihat perkembangan AI bukan semata-mata sebagai revolusi teknologi, melainkan sebagai momentum untuk membaca ulang makna belajar, pendidikan, pengetahuan, keberagamaan, dan kehidupan manusia. Buku ini berangkat dari kegelisahan bahwa kelimpahan informasi tidak selalu melahirkan pemahaman, kecerdasan tidak selalu menghasilkan kebijaksanaan, dan kemajuan teknologi tidak otomatis membuat manusia menjadi lebih manusiawi.

Pembahasan buku bergerak dari perubahan AI dalam peradaban menuju transformasi cara belajar dan peran guru. Pendidikan kemudian dibaca kembali sebagai proses memanusiakan manusia, bukan sekadar transfer pengetahuan. Perspektif tersebut diperluas melalui pembacaan terhadap tradisi keilmuan Islam, perubahan otoritas keagamaan di ruang digital, serta pentingnya literasi digital keagamaan agar manusia mampu membedakan informasi, pengetahuan, otoritas, dan kebenaran.

Buku ini selanjutnya membawa pembaca memasuki wilayah spiritualitas. AI dapat memproses informasi, tetapi tidak memiliki kesadaran spiritual, rasa syukur, penyesalan, cinta, maupun kerinduan kepada Tuhan. Karena itu, kecanggihan teknologi justru menuntut manusia untuk kembali menemukan kedalaman batinnya. Dalam konteks pendidikan Islam, buku ini menawarkan gagasan tentang Muslim Digital Beradab: manusia yang mampu memanfaatkan AI untuk pengembangan ilmu dan kemanusiaan tanpa kehilangan tauhid, adab, amanah, kemaslahatan, dan tanggung jawab sebagai khalifah di bumi.

Pada akhirnya, buku ini membawa pembaca menuju satu kesadaran: persoalan terbesar di era AI bukanlah apakah mesin akan menjadi lebih cerdas daripada manusia, melainkan apakah manusia masih mampu memelihara akal, hati, spiritualitas, dan kebijaksanaannya. Sebab, masa depan AI pada akhirnya merupakan cerminan dari masa depan karakter manusia.

 Back
Scroll to Top